Ayahku adalah seorang Kepala Sekolah Dasar dan Ibuku adalah
seorang Guru Agama di salah satu MTs di Kota P, sebuah kota
kecil di wilayah E - Jawa Tengah, jadi bisa dibayangkan betapa
ketat mereka mendidik anak-anaknya dalam hal keagamaan. Setiap
sore aku wajib mengaji di sebuah langgar di kampungku agar
jiwa keagamaan terpateri dalam jiwaku. Itulah keadaanku.
Kurang lebih tiga belas tahun yang lalu saat aku jadi
pengangguran setelah gagal mengikuti UMPTN, aku merantau ke
Jakarta untuk mencari kerja sambil menunggu kesempatan untuk
ikut UMPTN berikutnya. Selama di Jakarta aku menumpang
ditempat kontrakan kakakku yang juga masih bujangan, yang saat
itu sudah bekerja.
Sekian lama di Jakarta rupanya keberuntungan belum berpihak
kepadaku, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang
kampung. Soalnya kupikir mending jadi pengangguran di kampung
sendiri daripada lontang-lantung di kota orang.
"Mas..!! Aku besok mau pulang saja ke P," aku minta ijin
kakakku malam harinya setelah ia istirahat.
"Lho, ngapain pulang? Kan mending di sini dulu, sambil
nyari-nyari kerja. Siapa tahu sebentar lagi dapat kerjaan."
"Ah enggak enak nganggur terus di sini Mas. Mending nganggur
di P aja. Banyak temannya. Di sini lontang-lantung sendirian
enggak enak."
"Ya sudah kalau maumu begitu."
Akhirnya kakakku tidak bisa berbuat banyak dan membiarkan aku
pulang ke Kota P keesokan harinya. Siang itu aku sudah
berangkat dari Grogol, tempat kontrakkan kakakku ke arah Pulo
Gadung untuk pulang kampung dengan bus malam. Akhirnya aku
memperoleh bus yang lumayan longgar, karena memang
penumpangnya sedikit. Aku memilih bangku yang isi 2 dibelakang
dekat pintu belakang. Karena kebetulan tempat itulah yang
masih kosong. Lainnya sudah terisi walau cuma satu-satu. Aku
tidak ingin duduk dengan orang yang tidak kukenal karena aku
memang agak kurang bisa bergaul.
Bus berangkat dari Pulo Gadung dengan banyak bangku yang masih
kosong. Begitu sampai Cakung, bus berhenti lagi dan banyak
sekali penumpang yang ikut naik. Salah satu yang kebetulan
memilih duduk dikursi sebelahku adalah seorang perempuan yang
kalau kutaksir mungkin umurnya sekitar 29 tahun-an. Saat itu
aku masih baru 19 tahunan. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran
wanita Indonesia yaitu sekitar 160 Cm dengan bobot yang cukup
proporsional. Tidak gemuk dan tidak pula terlalu kurus.
Kulitnya putih bersih dengan potongan rambut pendek ala Demi
Moore. Wajahnya tidak begitu cantik tapi cukup menarik untuk
dipandang.
"Sini masih kosong dik??" tanyanya yang sempat mengagetkanku
"Ooh.. ap..apa mbak?"
"Bangku ini masih kosong enggak? Ngalamun ya?" ia mengulangi
pertanyaannya sambil tersenyum.
"Oh iya mbak masih kosong kok!!"
"Enggak mengganggu kan kalau aku duduk disini?"
"Oh..eh..enggak apa-apa mbak!!"
Akhirnya perempuan itu duduk di sebelahku. Yach, walaupun
tidak begitu cantik namun orangnya putih bersih. Dalam hati
aku sempat bersorak juga, aku pikir ini mungkin rejeki juga
soalnya masih banyak kursi kosong eh, kok perempuan ini malah
memilih duduk di kursi paling belakang. Dan dasar aku yang
sulit bergaul, aku jadi cuma berani mencuri-curi pandang
kearahnya tanpa berani memulai percakapan. Hatiku dag-dig-dug
tak karuan soalnya gugup kalau berdekatan dengan perempuan
yang belum kukenal.
Rupanya lama-lama perempuan itu tahu juga kalau aku selalu
mencuri-curi pandang kearahnya. Karena pas aku lagi melirik
kearahnya, tiba-tiba ia menengok kearahku sambil tersenyum.
Plos! Aku tak sanggup berkata apa-apa saking gugupnya karena
ketahuan telah mencuri-curi pandang.
"Kenapa dik? Ada yang salah dengan diriku?"
"Eh..oh.. enggak apa-apa kok mbak," jawabku gugup.
"Lho dari tadi Mbak amati kamu selalu mencuri-curi pandang
padaku memangnya kenapa?" ia masih tersenyum.
"Ah, eng..enggak kok mbak. Saya memang suka grogi kalau
berdekatan dengan wanita yang belum kenal kok mbak."
"Ooo.. begitu ya. Eh, ngomong-ngomong adik ini mau kemana?"
"Saya mau pulang ke Kota P, mbak! Nah kalau mbak sendiri mau
kemana?" tanyaku agak berani setelah percakapan mulai terbuka.
"Sama dik! Saya juga mau ke Kota P, tepatnya ke K. Adik P-nya
di mana?"
"Sa.. saya di kotanya mbak!"
"Kalau di kotanya.. kenal sama mbak I enggak? Dia itu anaknya
pak S yang jadi Kepala SD di K. Dia juga rumahnya di
kota-nya."
"Ooh, mbak I yang dulu pernah jadi juara bintang radio ya
mbak? Kalau itu sich saya kenal banget, wong itu kakakku yang
paling besar kok. Dan dia sekarang malah tinggal di Jakarta
ikut suaminya. Sekarang dia ngajar di salah satu SMUN di
Halim."
"Ooh jadi adik ini adiknya mbak I ya? Kok saya dulu waktu main
ke rumah mbak I nggak pernah ketemu adik?"
...